Kecap dan Jeruk Nipis
"Pengobatan alternatif" demikian Salim menyebutnya, "Bila Anda batuk, maka minumlah perasan jeruk nipis dicampur kecap. Sementara, jika Anda mencret dan diare, minumlah teh pahit yang kental"
Dan alhamdulillah, lepas apakah uji klinis membenarkan pengobatan alternatif tersebut, para santri selama ini sudah merasakan keampuhan dan khasiatnya. Terkecuali Zaidun. Sudah dua hari Zaidun
GUYONAN SUFI ala GUS MUS(KH MUSTOFA BISRI)
Mengecoh Monyet
Mengecoh Monyet
Abu Nawas sedang berjalan-jalan santai. Ada kerumunan masa. Abu Nawas bertanya kepada seorang kawan yang kebetuLan berjumpa di tengah jaLan. “Ada kerumunan apa di sana?” tanya Abu Nawas.
“Pertunjukkan keLiLing yang meLibatkan monyet ajaib.”
“Apa maksudmu dengan monyet ajaib?” kata Abu Nawas ingin tahu.
“Monyet yang bisa mengerti bahasa manusia, dan yang lebih menakjubkan adaLah monyet itu hanya mau tunduk kepada pemi[iknya saja.” kata kawan Abu Nawas menambahkan.
Abu Nawas makin tertarik. La tidak tahan untuk menyaksikan kecerdikan dan keajaiban bmnatang raksasa itu.
Kini Abu Nawas sudah berada di tengah kerumunan para penonton. Karena begitu banyak penonton yang menyaksikan pertunjukkan itu, sang pemiUk monyet dengan bangga menawarkan hadiah yang cukup besar bagi siapa saja yang sanggup membuat monyet itu mengangguk-angguk.
Tidak heran bila banyak diantara para penonton mencoba maju satu persatu. Mereka berupaya dengan beragam cara untuk membuat monyet itu mengangguk-angguk, tetapi sia-sia. Monyet itu tetap menggeLeng-geLengkan kepaLa.
Pintu Akhirat
Pintu Akhirat
Tidak seperti biasa, han itu Baginda tiba-tiba ingin menyamar menjadi rakyat biasa. Beliau ingin menyaksikan kehidupan di luar istana tanpa sepengetahuan siapa pun agar lebih Leluasa bergerak.
Baginda mulai keLuar istana dengan pakaian yang amat sederhana [ayaknya seperti rakyat jeLata. Di sebuah perkampungan beLiau meLihat beberapa orang berkumpuL. Setelah Baginda mendekat, ternyata seorang uLama sedang menyampaikan kuLiah tentang aLam barzah. Tiba-tiba ada seorang yang datang dan bergabung di situ, La bertanya kepada uLama itu.
Kami menyaksikan orang kafir pada suatu waktu dan mengintip kuburnya, tetapi kami tiada mendengar mereka berteriak dan tidak puLa melihat penyiksaan-penyiksaan yang katanya sedang diaLaminya. Maka bagaimana cara membenarkan sesuatu yang tidak sesuai dengan yang dilihat mata? ULama itu berpikir sejenak kemudian ia berkata,
Menipu Tuhan
Menipu Tuhan
Abu Nawas sebenarnya adalah seorang uLama yang aiim. Tak begitu mengherankan jika Abu Nawas mempunyai murid yang tidak sedikit.
Diantara sekian banyak muridnya, ada satu orang yang hampir seLaLu menanyakan mengapa Abu Nawas mengatakan begmni dan begitu. Suatu ketika ada tiga orang tamu bertanya kepada Abu Nawas dengan pertanyaan yang sama. Orang pertama muLai bertanya,
Manakah yang lebih utama, orang yang mengerjakan dosa-dosa besar atau
orang yang mengerjakan dosa-dosa keciLT’
Orang yang mengerjakan dosa-dosa kecil. jawab Abu Nawas.
Mengapa? kata orang pertama.
Sebab Lebih mudah diampuni oLeh Tuhan. kata Abu Nawas.
Orang pertama puas karena ía memang yakin begitu.
Orang kedua bertanya dengan pertanyaan yang sama. ‘Manakah yang Lebih utama, orang yang mengerjakan dosa-dosa besar atau orang yang mengerjakan dosa-dosa kecil?’
Orang yang tidak mengerjakan keduanya. jawab Abu Nawas.
Pekerjaan Yang MustahiL
Pekerjaan Yang MustahiL
Baginda baru saja membaca kitab tentang kehebatan Raja SuLaiman yang mampu memerintahkan, para jin memindahkan singgasana Ratu Bilqis di dekat istananya. Baginda tiba-tiba merasa tertarik. Hatinya mulai tergelitik untuk meLakukan hal yang sama. Mendadak beliau ingin istananya dipindahkan ke atas gunung agar bisa Lebih LeLuasa menikmati pemandangan di sekitar. Dan bukankah haL itu tidak mustahil bisa diLakukan karena ada Abu Nawas yang amat cerdik di negerinya.
Abu Nawas segera dipanggil untuk menghadap Baginda Raja Harun AL Rasyid. Setelah Abu Nawas dihadapkan, Baginda bersabda,
Sanggupkah engkau memindahkan istanaku ke atas gunung agar aku lebih leluasa meLihat negeriku?” tanya Baginda.
Abu Nawas tidak langsung menjawab. La berpikir sejenak bingga keningnya berkerut. Tidak mungkin menoLak perintab Baginda kecuaLi kaLau memang ingin dihukum.
Akhirnya Abu Nawas terpaksa menyanggupi proyek raksasa itu. Ada satu Lagi permintaan dan Baginda, pekerjaan itu harus selesai hanya daLam waktu sebuLan.
Abu Nawas puLang dengan hati masguL. Setiap malam ia hanya berteman dengan rembulan dan bintang-bintang. Han-han diLewati dengan kegundahan. Tak ada han yang lebih berat daLam hidup Abu Nawas kecuaU han-han ini.Tetapi pada han kesembilan ia tidak lagi merasa gundah guLana.
Keesokan harinya Abu Nawas menuju istana. La menghadap Baginda untuk membahas pemindahan istana. Dengan senang hati Baginda akan mendengarkan, apa yang diinginkan Abu Nawas.
Ampun Tuariku, hamba datang ke sini hanya untuk mengajukan usuL untuk memperLancar pekerjaan hamba nanti.” kata Abu Nawas.
Apa usuL itu?”
Hamba akan memindahkan istana Paduka yang muUa tepat pacia Han Raya Idul
Qurban yang kebetuLan hanya kurang dua puLuh han Lagi.
Mengecoh Raja
Mengecoh Raja
Sejak peristiwa penghancuran barang-barang di istana oLeh Abu Nawas yang dilegalisir oLeh Baginda, sejak saat itu puLa Baginda ingin menangkap Abu Nawas untuk dijebloskan ke penjara.
Sudah menjadi hukum bagi siapa saja yang tidak sanggup melaksanakan titah Baginda, maka tak disangsikan lagi ia akan mendapat hukuman. Baginda tahu
Abu Nawas amat takut kepada beruang. Suatu han Baginda memerintahkan prajuritnya menjemput Abu Nawas agar bergabung dengan rombongan Baginda Raja Harun AL Rasyici berburu beruang. Abu Nawas merasa takut dan gemetar tetapi ía tidak berani menolak perintah Baginda.
Dalam perjaLanan menuju ke hutan, tiba-tiba cuaca yang cerah berubah menjadi mendung. Baginda memanggiL Abu Nawas. Dengan penuh rasa hormat Abu Nawas mendekati Baginda.
Tahukah mengapa engkau aku panggiL?” tanya Baginda tanpa sedikit pun senyum di wajahnya.
Ampun Tuanku, hamba belum tahu. kata Abu Nawas.
Hadiah Bagi Tebakan Jitu
Hadiah Bagi Tebakan Jitu
Baginda Raja Harun Al Rasyid keLihatan murung. Semua menterinya tidak ada yang sanggup menemukan jawaban dan dua pertanyaan Baginda. Bahkan para
penasihat kerajaan pun merasa tidak mampu memberi penjelasan yang memuaskan Baginda. Padahal Baginda sendiri ingin mengetahul jawaban yang sebenarnya.
Mungkin karena amat penasaran, para penasihat Baginda menyarankan agar Abu Nawas saja yang memecahkan dua teka-teki yang membingungkan itu. Tidak begitu lama Abu Nawas dihadapkan. Baginda mengatakan bahwa akhirakhir ml Ia suLit ticiur karena diganggu oLeh keingintahuan menyingkap dua rahasia alam.
Tuanku yang muUa, sebenarnya rahasia aLam yang manakah yang Paduka maksudkanT’ tanya Abu Nawas ingin tahu.
Kasih sayang seorang IBU
Ibu Sejati
Kisah ml mirip dengan kejadian pada masa Nabi SuLaiman ketika masih muda.
Entah sudah berapa han kasus seorang bayl yang diakul oleh dua orang ibu yang sama-sama ingin memiliki anak. Hakim rupanya mengaLami kesulitan memutuskan dan menentukan perempuan yang mana sebenarnya yang menjadi ibu bayl itu.
Karena kasus berlarut-Larut, maka terpaksa hakim menghadap Baginda Raja untuk minta bantuan. Baginda pun turun tangan. Baginda memakal taktik rayuan. Baginda berpendapat mungkmn dengan cara-cara yang amat haLus salah satu, wanita itu ada yang mau mengalah. Tetapi kebijaksanaan Bagmnda Raja
Harun Al Rasyid justru membuat kedua perempuan makin mati-matian saLing mengaku bahwa bayl itu adalah anaknya. Baginda berputus asa.
Mengingat tak ada cara-cara Lain Lagi yang bisa diterapkan Baginda memanggiL Abu Nawas. Abu Nawas hadir menggantikan hakim. Abu Nawas tidak mau menjatuhkan putusan pada ban itu meLainkan menunda sampal han berikutnya. Semua yang hadir yakin Abu Nawas pasti sedang mencari akaL seperti yang biasa dilakukan. PadahaL penundaan itu hanya disebabkan aLgojo tidak ada di tempat.
Selau dapatjalan keluar
Tetap Bisa Cari Solusi
Mimpi buruk yang diaLami Baginda Raja Harun AL Rasyid tadi malam menyebabkan Abu Nawas diusir dan negeri Baghdad. Abu Nawas tidak berdaya. Bagaimana pun Ia harus segera menyingkir meninggalkan negeri Baghdad hanya karena mimpi. Masih jelas terngiang-ngiang kata-kata Baginda Raja di teLinga Abu Nawas.
Tadi maLam aku bermimpi bertemu dengan seorang laki-laki tua. La mengenakan jubah putih. La berkata bahwa negerinya akan ditimpa bencana bila orang yang bennama Abu Nawas masih tetap tinggaL di negeri ml. La harus diusir dan negeri mi sebab onang itu membawa kesiaLan. Ia boLeh kembali ke negeninya dengan sarat tidak boLeh dengan benjalan kaki, benLani, menangkak, meLompat-lompat dan menunggang keledai atau binatang tunggangan yang lain.
Debat tantang Ayam
MeLihat ayam betinanya berteLur, Baginda tersenyum. BeLiau memanggiL pengawal agar mengumumkan kepada rakyat bahwa kerajaan mengadakan sayembara untuk umum. Sayembara itu berupa pertanyaan yang mudah tetapi memerlukan jawaban yang tepat dan masuk akaL. Barangsiapa yang bisa menjawab pertanyaan itu akan mendapat imbaLan yang amat menggiurkan. Satu pundi penuh uang emas. Tetapi bila tidak bisa menjawab maka hukuman yang menjadi akibatnya.
Banyak rakyat yang ingin mengikuti sayembara itu terutama orang-orang miskin. Beberapa dan mereka sampai meneteskan air Liur. Mengingat beratnya hukuman yang akan dijatuhkan maka tak mengherankan biLa pesertanya hanya empat orang. Dan saLah satu dan para peserta yang amat sedikit itu adaLah Abu Nawas.
Aturan main sayembara itu ada dua. Pertama, jawaban harus masuk akaL. Kedua, peserta harus
BotoL Ajaib
BotoL Ajaib
Tidak ada henti-hentinya. Tidak ada kapok-kapoknya, Baginda selalu memanggil Abu Nawas untuk dijebak dengan berbagai pertanyaan atau tugas yang aneh-aneh. Han mi Abu Nawas juga dipanggiL ke istana.
SeteLah tiba di istana, Baginda Raja menyambut Abu Nawas dengan sebuab senyu man.
Akhir-akhir mi aku sering mendapat gangguan perut. Kata tabib pribadiku, aku kena serangan angin.” kata Bagmnda Raja memulai pembicaraan.
“Ampun Tuanku, apa yang bisa hamba Lakukan hingga hamba dipanggiL.” tanya Abu Nawas.
“Aku hanya mengingmnkan engkau menangkap angin dan memenjarakannya.” kata Baginda.
Abu Nawas hanya diam. Tak sepatah kata pun keLuar dan muLutnya. La tidak memikirkan bagaimana cara menangkap angmn nanti tetapi ía masih bingung bagaimana cara membuktikan bahwa yang ditangkap itu memang benar-benar angin.
Karena angin tidak bisa diLihat. Tidak ada benda yang lebih aneh dan angmn.
Tidak seperti halnya air waLaupun tidak berwarna tetapi masib bisa diLihat.
Sedangkan angin tidak.
Baginda hanya memberi Abu Nawas waktu tidak Lebih dan tiga han. Abu Nawas pulang membawa pekerjaan rumah dan Baginda Raja. Namun Abu Nawas tidak begitu sedih. Karena berpikir sudah merupakan bagian dan hidupnya, bahkan merupakan suatu kebutuhan. La yakin bahwa dengan berpikir akan terbentang jaLan keluar dan kesuLitan yang seciang dihadapi. Dan dengan berpikir pula ia yakin bisa menyumbangkan sesuatu kepada orang lain yang membutuhkan terutama orang-orang miskin. Karena tidak jarang Abu Nawas menggondoL sepundi penuh uang emas hadiah dan Baginda Raja atas kecerdikannya.
Tetapi sudah dua han mi Abu Nawas belum juga mendapat akal untuk menangkap angin apaLagi memenjarakannya. Sedangkan besok adaLah han terakhir yang teLah ditetapkan Bagincia Raja. Abu Nawas hampir putus asa. Abu Nawas benar-benar tidak bisa tidur waLau hanya sekejap.
Mungkin sudah takdir; kayaknya kaLi ml Abu Nawas harus menjalani hukuman karena gagaL meLaksanakan perintah Baginda. La berjalan gontai menuju istana. Di seLa-sela kepasrahannya kepada takdir ia ingat sesuatu, yaitu ALadin dan lampu wasiatnya.
Bukankah jin itu tidak terLihatT’ Abu Nawas bertanya kepada din sendiri. La berjingkrak girang dan segera berlari puLang. Sesampai di rumah ía secepat mungkin menyiapkan segaLa sesuatunya kemudian menuju istana. Di pintu gerbang istana Abu Nawas Langsung dipersiLahkan masuk oLeh para pengawal karena Baginda sedang menunggu kehadirannya.
Dengan tidak sabar Baginda Langsung bertanya kepada Abu Nawas.
Sudahkah engkau berhasil memenjarakan angin, hal Abu Nawas?
Sudah Paduka yang mulia.” jawab Abu Nawas dengan muka berseri-seri sambil mengeLuarkan botol yang sudah disumbat. Kemudian Abu Nawas menyerahkan botol itu.
Baginda menimang-nimang botol itu.
Mana angin itu, hal Abu Nawas? tanya Baginda.
“Di dalam, Tuanku yang muLia.” jawab Abu Nawas penuh takzim.
“Aku tak meLihat apa-apa.” kata Baginda Raja.
“Ampun Tuanku, memang angin tak bisa diLihat, tetapi bila Paduka ingin tahu angin, tutup botoL itu harus dibuka terLebih dahuLu.” kata Abu Nawas menjeLaskan. Setelah tutup botoL dibuka Baginda mencium bau busuk. Bau kentut yang begitu menyengat hidung.
Bau apa ml, hal Abu Nawas?!” tanya Baginda marah. “Ampun Tuanku yang muLia, tadi hamba buang angin dan hamba masukkan ke daLam botoL. Karena hamba takut angin yang hamba buang itu keLuar maka hamba memenjarakannya dengan cara menyumbat muLut botol.” kata Abu Nawas ketakutan.
Tetapi Bagmnda tidak jadi marah karena penjelasan Abu Nawas memang masuk akaL. Dan untuk kesekian kaLi Abu Nawas selamat.
oo000oo
Abu Nawas Mendemo Tuan Kodhi
Abu Nawas Mendemo Tuan Kodhi
Pada suatu sore, ketika Abu Nawas sedang mengajan munid-muridnya. Ada dua orang tamu datang ke numahnya. Yang seorang adalah wanita tua penjual kahwa, sedang satunya lagi adaLah seorang pemuda berkebangsaan Mesir.
Wanita tua itu berkata beberapa patah kata kemudian diteruskan dengan si pemuda Mesir. Setelah mendengar pengaduan mereka, Abu Nawas menyuruh murid-muridnya menutup kitab mereka.
Sekarang puLangLah kalian. Ajak teman-teman kaLian datang kepadaku pada maLam han mi sambiL membawa cangkuL, penggali, kapak dan martil serta batu.”
Murid-murid Abu Nawas merasa heran, namun mereka begitu patuh kepada Abu Nawas. Dan
Membalas Perbuatan Raja
Membalas Perbuatan Raja
Abu Nawas hanya tertunduk sedih mendengarkan penuturan istrinya. Tadi pagi beberapa pekerja kerajaan atas titan Langsung Baginda Raja membongkar rumah dan terus menggaLi tanpa bisa dicegah. Kata mereka tadi malam Baginda bermimpi bahwa di bawah rumah Abu Nawas terpendam emas dan permata yang tak terniLai harganya. Tetapi setelah mereka terus menggaLi ternyata emas dan permata itu tidak ditemukan. Dan Baginda juga tidak meminta maaf kepada Abu Nawas. ApabiLa mengganti kerugian. iniLah yang membuat Abu Nawas memendam dendam.
Lama Abu Nawas memeras otak, namun beLum juga Ia menemukan musLihat untuk membalas Baginda. Makanan yang dihidangkan oLeh istrinya tidak dimakan karena nafsu makannya lenyap. MaLam pun tiba, namun Abu Nawas tetap tidak beranjak. Keesokan han Abu Nawas melihat LaLat-LaLat muLai menyerbu makanan Abu Nawas yang sudah basi. Ia tiba-tiba tertawa riang.
Tolong ambiLkan kain penutup untuk makananku dan sebatang besi.” Abu Nawas berkata kepada istrinya.
Untuk apa? tanya istrinya heran.
MembaLas Baginda Raja. kata Abu Nawas singkat. Dengan muka berseri-seri Abu Nawas berangkat menuju istana. Setiba di istana Abu Nawas membungkuk hormat dan berkata,
Ampun Tuanku, hamba menghadap Tuanku Baginda hanya untuk mengadukan perLakuan tamu-tamu yang tidak diundang. Mereka memasuki rumah hamba tanpa ijin dan hamba dan berani memakan makanan hamba.
Siapakah tamu-tamu yang tidak diundang itu wahai Abu Nawas?’ sergap Baginda kasar.
LaLat-LaLat i, Tuanku. kata Abu Nawas sambil membuka penutup piringnya. Kepada siapa Lagi ka[au bukan kepada Baginda junjungan hamba, hamba mengadukan perlakuan yang tidak adil mi.
LaLu keadiLan yang bagaimana yang engkau inginkan dariku?
Hamba hanya mengingmnkan ijmn tertuLis dan Baginda sendiri agar hamba bisa dengan leLuasa menghukum lalat-lalat itu. Bagmnda Raja tidak bisa mengeLakkan din menotak permintaan Abu Nawas karena pada saat itu para menteri sedang berkumpuL di istana. Maka dengan terpaksa Bagmnda membuat surat ijin yang isinya memperkenankan Abu Nawas memukul LaLat-LaLat itu di manapun mereka hinggap.
Tanpa menunggu perintab Abu Nawas mulal mengusir laLat-laLat di piringnya hingga mereka terbang dan hinggap di sana sini. Dengan tongkat besi yang sudah sejak tadi dibawanya dan rumah, Abu Nawas muLal mengejar dan memukuli lalat-lalat itu. Ada yang hinggap di kaca.
Abu Nawas dengan LeLuasa memukuL kaca itu hingga hancur, kemudian vas bunga yang indah, kemudian giliran patung hias sehingga sebagian dan istana dan perabotannya remuk diterjang tongkat besi Abu Nawas. Bahkan Abu Nawas tidak merasa malu memukul LaLat yang kebetulan hinggap di tempayan Baginda Raja.
Baginda Raja tidak bisa berbuat apa-apa kecuaLi menyadari kekeLiruan yang telah diLakukan terhadap Abu Nawas dan keLuarganya. Dan setelah merasa puas, Abu Nawas mohon din. Barang-barang kesayangan Baginda banyak yang hancur. Bukan hanya itu saja, Baginda juga menanggung rasa maLu. Kini ia sadar betapa kelirunya berbuat semena-mena kepada Abu Nawas. Abu Nawas yang nampak lucu dan sering menyenangkan orang itu ternyata bisa berubah menjadi garang dan ganas serta mampu membalas dendam terhadap orang yang mengusiknya.
Abu Nawas puLang dengan perasaan Lega. Istrinya pasti sedang menunggu di rumah untuk mendengarkan cerita apa yang dibawa dan istana.
oo000oo
Pesan Bagi Para Hakim
Pesan Bagi Para Hakim
Siapakah Abu Nawas? Tokoh yang dinggap badut namun juga dianggap uLama besar ml— sufi, tokoh super lucu yang tiada bandingnya ml asLmnya orang Persia yang diLahirkan pada tahun 750 M di Ahwaz meninggaL pada tahun 819 M di Baghdad. Setelah dewasa Ia mengembara ke Bashra dan Kufa. Di sana ia belajar bahasa Arab dan bergauL rapat sekaLi dengan orang-orang badul padang pasir. Karena pergauLannya itu ia mahir bahasa Arab dan adat istiadat dan kegemaran orang Arab”, La juga pandal bersyair, berpantun dan menyanyi. La sempat pulang ke negermnya, namun pergi lagi
Fenomena ‘Gila’ Gus Dur
Fenomena ‘Gila’ Gus Dur
Konon, guyonan mantan Presiden Abdurrahman Wahid selalu ditunggu-tunggu oleh banyak kalangan, termasuk presiden dan berbagai negara.
Pernah suatu ketika, Gus Dur membuat tertawa Raja Saudi yang dikenal sangat serius dan hampir tidak pernah tertawa. Oleh Kiai Mustofa Bisri (Gus Mus),
momentum tersebut dinilai sangat bersejarah bagi rakyat Negeri Kaya Minyak. “Kenapa?” tanya Gus Dur.
“Sebab sampeyan sudah membuat Raja ketawa sampai giginya kelihatan. Baru kali mi rakyat Saudi melihat gigi rajanya,” jelas Gus Mus, yang disambut gelak tawa Gus Dur.
Melekatnya predikat humoris pada Presiden RI yang keempat itu pun sempat membuat Presiden Kuba Fidel Alejandro Castro Ruz penasaran. Suatu ketika, keduanya berkesempatan bertemu.
Seperti yang diceritakan oleh mantan Kepala Protokol Istana Presiden Wahyu Muryadi pada tayangan televisi, Fidel Castro bertanya kepada Gus Dur mengenai joketeranyarnya.
Dijawablah oleh Gus Dur, “Di Indonesia itu terkenal dengan fenomena ‘gila’,”.
Fidel Castro pun menyimak pernyataan mengagetkan tersebut.
“Presiden pertama dikenal dengan gila wanita. Presiden kedua dikenal dengan gila harta. Lalu, presiden ketiga dikenal gila teknologi,” tutur Gus Dur yang kemudian
terdiam sejenak.
Fidel Castro pun semakin serius mendengarkan lanjutan cerita. “Kemudian, kalau presiden yang keempat, ya yang milih itu yang gila,” celetuk Gus Dur. Fidel Castro pun diceritakan terpingkalpingkal mendengar dagelan tersebut. (rhs)
orang NU yang gila,”
Orang NU Gila
Rumah Gus Dur di kawasan Ciganjur, Jakarta Selatan, sehari-harinya tidak pernah sepi dan tamu. Dan pagi hingga malam, bahkan takjarang sampai dinihani para tamu mi datang silih berganti baik yang dan kalangan NU ataupun bukan. Takjarang meneka pun datang dan luar kota.
Menggambarkan fanatisme orang NU, kata Gus Dur, menurutnya ada 3 tipe orang NU. “Kalau mereka datang dan pukul tujuh pagi hingga jam sembilan malam, dan menceritakan tentang NU, itu biasanya orang NU yang memang punya komitmen dan fanatik terhadap N U,” tegas Gus Dur.
Orang NU jenis yang kedua, mereka yang meski sudah larut malam, sekitar jam dua belas sampai jam satu malam, namun masih mengetuk pintu Gus Dur untuk membicarakan NU, “Itu namanya orang gila N U,” jelasnya.
“Tapi kalau ada orang NU yang masih juga mengetuk pintu rumah saya jam dua dinihari hingga jam enam pagi, itu namanya orang NU yang gila,” kata Gus Dur sambil terkekeh.
Kuli dan Kyai
Kuli dan Kyai
Rombongan jamaah haji NU dan Tegal tiba di Bandara King Abdul Aziz, Jeddah Arab Saudi. Langsung saja kuli-kuli dan Yaman berebutan untuk mengangkut barang-barang yang mereka bawa. Akibatnya, dua orang di antara kuli-kuli itu terlibat percekcokan
serius dalam bahasa Arab.
Melihat itu, rombongan jamaah haji tersebut spontan merubung mereka, sambil berucap:
Amin, Amin, Amin!
Gus Dur yang sedang berada di bandara itu menghampiri mereka: Lho kenapa Anda berkerumun di sini?”
“Mereka terlihat sangat fasih berdoa, apalagi pakai serban, mereka itu pasti kyai.”(//ahm)
Obrolan Para Presiden
Obrolan Para Presiden
Saking udah bosannya keliling dunia, Gus
Dur coba can suasana di pesawat RI-Ol. Kali
mi dia mengundang Presiden AS dan
Perancis terbang bersama Gus Dur buat
keliling dunia. Boleh dong, emangnya AS dan Perancis aja yg punya pesawat kepresidenan. Seperti biasa...
setiap presiden selalu ingin memamerkan apa yang menjadi kebanggaan negerinya.
Tidak lama presiden Amerika, Clinton mengeluarkan tangannya dan sesaat kemudian dia berkata: “Wah kita sedang berada di atas New York!”
Presiden Indonesia (Gus Dur): “Lho kok bisa tau sih?”
“Itu.. patung Liberty kepegang!”, jawab Clinton dengan bangganya.
Ngga mau kalah presiden Perancis, Jacques Chirac, ikut menjulurkan tangannya keluar. “Tau nggak... kita sedang berada di atas kota Paris!”, katanya dengan sombongnya.
Presiden Indonesia: “Wah... kok bisa tau juga?”
“Itu... menara Eiffel kepegang!”, sahut presiden Perancis tersebut.
Karena disombongin sama Clinton dan Chirac, giliran Gus Dur yang menjulurkan tangannya keluar pesawat...
“Wah... kita sedang berada di atas Tanah Abang!!!”, teriak Gus Dur.
“Lho kok bisa tau sih?” tanya Clinton dan Chirac heran karena tahu Gus Dur itu kan nggak bisa ngeliat.
“mi... jam tangan saya ilang...”, jawab Gus Dur kalem.
Ho Oh
Ho Oh.........
Seorang ajudan Presiden Bill Clinton dan Amerika Serikat sedang jalan-jalan di Jakarta. Karena bingung dan tersesat, dia kemudian bertanya kepada seorang penjual rokok. “Apa betul mi Jalan Sudirman?”“Ho oh,” jawab si penjual rokok.
Karena bingung dengan jawaban tersebut, dia kemudian bertanya lagi kepada seorang Polisi yang sedang mengatur lalu lintas. “Apa mi Jalan Sudirman?” Polisi menjawab, “Betul.”
Karena bingung mendapatjawaban yang berbeda, akhirnya dia bertanya kepada Gus Dur yang waktu itu kebetulan melintas bersama ajudannya. “Apa mi Jalan
Sudirman?” Gus Dur menjawab “Benar.”
Bule itu semakin bingung saja karena mendapat tiga jawaban yang berbeda. Lalu akhirnya dia bertanya kepada Gus Dur lagi, mengapa waktu tanya tukang rokok dijawab “Ho oh,” lalu tanya polisi dijawab “betul” dan yang terakhir dijawab Gus Dur dengan kata “benar.”
Gus Dur tertegun sejenak, lalu dia berkata, “Ooh begini, kalau Anda bertanya kepada tamatan SD maka jawabannya adalah ho oh, kalau yang bertanya kepada tamatan SMA maka jawabannya adalah betul. Sedangkan kalau yang bertanya kepada tamatan Universitas maka jawabannya benar.”
Ajudan Clinton itu mengangguk dan akhirnya bertanya, “Jadi Anda mi seorang sarjana?”
Dengan spontan Gus Dur menjawab, “Ho oh!”
Sumber: marhendraputra.co.cc, 3 Januari 2010
Made In Japan, Sangat Cepat
Di luar Hotel Hilton, Gus Dur bersama sahabatnya yang seorang turis Jepang mau
pergi ke Bandara. Mereka naik taksi di jalan, tiba-tiba saja ada mobil kencang sekali menyalip taksinya. Dengan bangga Si Jepang berteriak, “Aaaah Toyota, made in Japan. Sangat cepat...!”
Tidak lama kemudian, mobil lain menyalip taksi itu. Si Jepang teriak lagi, “Aaaah Nissan, made mi Japan. Sangat cepat.”
Beberapa lama kemudian, taksi yang ia naiki lagi-lagi disalip mobil, dan Si Jepang teriak lagi “Aaaah Mitsubishi. Made in Japan sangat cepat..i” Gus Dur dan sopir taksi itu merasa kesal melihat Si Jepang mi bener-bener nasionalis.
Kemudian, sesampainya di bandara, sopir taksi bilang ke Si Jepang. “100 dolar, please...”
“100 dolars...?’ mi tidakjauh dan hotel.”
“Aaaah... Argometer made in Japan kan sangat cepat sekali,” kata Gus Dur menyahut Si Jepang itu.
Gus yang di benci masa pemerintah Orde Baru
Di kalangan Nahdliyin, Gus adalah julukan bagi anak kiai yang mereka hormati Panggilan hormat itu tetap melekat, bahkan sampai si anak sudah jadi bapak atau kakek Begitulah, menurut Gus Dur, ada Gus Nun, Gus Mus, dan lain-lain-an pa menyebut din sendiri.
Lain sikap hormat kalangan Nahdliyin, lain pula pandangan pemerintah Orde Baru. Yang terakhir mi tak suka dengan para Gus itu, terutama yang kritis terhadap kekuasaan.
Kekritisan Gus Dur terhadap pemerintah
Orde Baru mengakibatkan ia “dikucilkan.”
Gus Nun sering ngomong pedas, maka
dianggap musuh pemerintah juga
Tapi, kata Gus Dur, di acara jamuan makan malam bersama tamu -tamunya, sebenarnya ada satu “Gus” lagi yang tidak disukai pemerintah
Para tamu pun penasaran, dan menunggu Gus siapa lagi gerangan yang dimaksud
“Gusmao...,” ungkap Gus Dur menyebut nama belakang Kay Rala Xanana (timor leste)
Gus Dur dan UU Pornografi
Humor mi muncul saat Dewan Perwakilan Rakyat akan mengesahkan Rancangan Undang-undang Pornografi menjadi undangundang pada pertengahan 2008. Berbagai pro dan kontra berkembang. Demonstrasi di mana-mana.
Gus Dur yang terkenal sebagai tokoh kebebasan berpikir, tidak ambil pusing. Bagi dia, di dalam Islam pun telah ada porno. Jadi tidak perlu diperdebatkan. Berikut cerita mengenai 189 Gaya Bersetubuh yang dikutip dan berbagai sumber:
Ketika semua pihak berteriak musnahkan pornoaksi dan pornografi di negeri mi karena tidak sesuai dengan syariat Islam, Gus Dur justru kurang sependapat. Gus Dur berusaha mengambil contoh dan sisi pandangan Islam tentang porno tersebut.
Misalnya saja ketika Gus Dur menjawab interview, Gus Dur menyebut kitab Raudlatul Mu’aththar sebagai korban tentang
kesalahan memandang pengertian daripada kata porno.
“Anda tahu, kita Raudlatul Mu’aththar (Kebun Wewangian) itu merupakan kitab Bahasa Arab yang isinya tata cara bersetubuh dengan 189 gaya.”
“Kalau begitu, kitab itu cabul dong?”
Che Guevara
guyonan Gus Dur sewaktu masih menjadi Presiden RI, saat berkunjung ke Kuba dan bertemu dengan Fidel Castro.
Saat itu Fidel Castro mendatangi hotel tempat Gus Dur dan rombongannya menginap selama di Kuba. Dan mereka pun terlibat pembicaraan hangat, menjurus serius. Agar pembicaraan tidak terlalu membosankan, Gus Dur pun mengeluarkan jurus andalannya, yaitu guyonan.
Beliau bercerita pada pemimpin Kuba, Fidel Castro, bahwa ada 3 orang tahanan yang berada dalam satu sel. Para tahanan itu saling memberitahu bagaimana mereka bisa sampai ditahan di situ. Tahanan pertama bercerita, “Saya dipenjara karena saya anti dengan Che Guevara.” Seperti diketahui Che Guevara memimpin perjuangan kaum sosialis di Kuba.
Tahanan kedua berkata geram, “Oh kalau saya dipenjara karena saya pengikut Che Guevara!” Lalu mereka berdua terlibat perang mulut. Tapi mendadak mereka teringat tahanan ketiga yang belum ditanya. “Kalau kamu kenapa sampai dipenjara di sini?” tanya mereka berdua kepada tahanan ketiga.
Lalu tahanan ketiga itu menjawab dengan berat hati, “Karena saya Che Guevara.”
DPR Turun Pangkat
DPRTurun Pangkat Gus dur juga sempat melontarkan guyonan
tentang prilaku anggota Dewan Perwakilan Rakyat. Sempat menyebut mereka sebagai anak Taman Kanak-Kanak. Gus Dur pun berseloroh anggota DPR sudah Hturun pangkat” setelah ricuh dalam sidang paripurna pembahasan kenaikan bahan bakar minyak (BBM) pada 2004 silam.
“DPR dulu TK, sekarang playgroup,” kata Gus Dur, ketika menjawab pertanyaan wartawan tentang kejadian di DPR saat sidang itu.
Becak Dilarang Masuk
Becak Dilarang Masuk
Saat menjadi presiden, Gus Dur pernah bercerita kepada Menteri Pertahanan saat itu, Mahfud MD, tentang orang Madura yang katanya banyak akal dan cerdik. Cerita mi masuk dalam buku Setahun bersama Gus Dur, Kenangan Menjadi Menteri di Saat Sulit.
Ceritanya, ada tukang becak asal Madura yang pernah dipergoki oleh polisi ketika melanggar rambu “becak dilarang masuk”. Tukang becak itu masuk ke jalan yang ada rambu gambar becak disilang dengan garis hitam yang berarti jalan itu tidak boleh dimasuki becak.
“Apa kamu tidak melihat gambar itu? Itu kan gambar becak tidak boleh masuk jalan mi,” bentak polisi.
“Oh saya melihat pak, tapi itu kan gambarnya becak kosong. Becak saya kan ada yang mengemudi,”jawab si tukang becak.
“Bodoh, apa kamu tidak bisa baca? Di bawah gambar itu kan ada tulisan bahwa becak dilarang masuk,” bentak pak polisi lagi.
“Tidak pak, saya tidak bisa baca, kalau saya bisa membaca maka saya jadi polisi seperti sampeyan, bukan jadi tukang becak seperti ini,”jawab Si tukang becak sambil cengengesan.
PALING JUJUR
Tiga Polisi Jujur
Gus Dur sering terang-terangan ketika mengritik. Tidak terkecuali ketika mengkritik dan menyindir polisi.
Menurut Gus Dur di negeri mi hanya ada tiga
polisi yang jujur. “Pertama, patung polisi.
Kedua, polisi tidur. Ketiga, polisi Hoegeng
(mantan Kapoiri).”
Lainnya? Gus Dur hanya tersenyum.
MANA ROKOKKU.......
Santri Dilarang Merokok
“Para santri dilarang keras merokok!” begitulah aturan yang berlaku di semua pesantren, termasuk di pesantren Tambak Beras asuhan Kiai Fattah, tempat Gus Dur
pernah nyatri. Tapi, namanya santri, kalau tidak bengal dan melanggar aturan rasanya kurang afdhol.
Suatu malam, tutur Gus Dur, listrik di pesantren itu tiba-tiba padam. Suasana pun jadi gelap gulita. Para santri ada yang tidak peduli, ada yang tidur tapi ada juga yang terlihatjalan-jalan mencari udara segar. Di luar sebuah rumah, ada seseorang sedang duduk-duduk santai sambail merokok. Seorang santri yang kebetulan melintas di dekatnya terkejut melihat ada nyala rokok di tengah kegelapan itu.
“Nyedot, Kang?” sapa si santri sambil menghampiri “senior”-nya yang sedang asyik merokok itu. Langsung saja orang itu memberikan rokok yang sedang dihisapnya kepada sang “yunior”. Saat dihisap, bara rokok itu membesar, sehingga si santri mengenali wajah orang tadi.
Saking takutnya, santri itu langsung Ian tunggang langgang sambil membawa rokok pinjamannya. “Hai, rokokku jangan dibawa!” teriak Kiai Fatta.
